Protein Spike Ditemukan di Otak 17 Bulan Pasca-Vaksin mRNA: Apa yang Sebenarnya Ditemukan Peneliti Jepang?

Sebuah studi yang terbit di Journal of Clinical Neuroscience edisi 2025 memicu perhatian di kalangan ilmiah: tim peneliti dari Sapporo Teishinkai Hospital dan dua institusi medis Jepang lainnya menemukan protein spike SARS-CoV-2 pada jaringan arteri otak pasien stroke hemoragik, pada beberapa kasus hingga tujuh belas bulan setelah vaksinasi mRNA terakhir mereka.



Sebelum masuk ke detailnya, penting digarisbawahi satu hal: ini adalah studi kasus-seri berskala kecil yang bersifat eksploratif, bukan uji klinis terkontrol berskala besar. Penulis studi sendiri secara eksplisit menyatakan temuan ini belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat antara vaksinasi dan kejadian stroke.

Mengapa Penelitian Ini Dilakukan

Vaksin mRNA seperti BNT162b2 (Pfizer-BioNTech) dan mRNA-1273 (Moderna) terbukti aman dan efektif dalam uji klinis fase 2-3. Namun karena ini adalah platform vaksin berbasis mRNA pertama yang digunakan secara luas pada manusia, data mengenai biodistribusi dan efeknya dalam jangka panjang di dalam tubuh masih terbatas.

        Penelitian ini bermula dari satu kasus tak terduga: seorang pasien mengalami pendarahan otak atipikal beberapa bulan pasca-vaksinasi, tanpa riwayat infeksi COVID-19, namun jaringan otaknya positif mengandung protein spike. Temuan tunggal inilah yang mendorong tim mengumpulkan kasus tambahan secara retrospektif dan prospektif.

Metodologi

Dari Maret 2023 hingga April 2024, peneliti mengumpulkan 19 kasus pasien stroke hemoragik atau kasus otopsi di Sapporo Teishinkai Hospital. Usia rata-rata responden 58,9 tahun, dengan mayoritas perempuan (14 dari 19 kasus).

Tim menggunakan tiga pendekatan:

  1. Imunohistokimia, untuk mendeteksi dua protein berbeda: protein spike (bisa berasal dari vaksin atau virus) dan protein nukleokapsid (hanya muncul jika ada infeksi aktif).
  2. In situ hybridization (ISH) pada tiga kasus terpilih, memakai probe yang bisa membedakan secara spesifik apakah mRNA yang terdeteksi berasal dari vaksin atau dari virus.
  3. Pewarnaan sel imun (CD3, CD4, CD8, CD20, CD38, CD68) untuk melihat ada tidaknya infiltrasi sel radang pada pembuluh darah yang spike-positif.

Temuan Utama

Dari 16 pasien dengan riwayat vaksinasi mRNA, 7 kasus (43,8%) menunjukkan hasil positif protein spike pada intima arteri serebral, termasuk kasus yang sudah 17 bulan sejak vaksinasi terakhir. Tidak satu pun kasus yang positif protein nukleokapsid, mengindikasikan tidak adanya infeksi aktif saat sampel diambil.

        Pada pembuluh darah yang spike-positif, peneliti tidak menemukan tanda vaskulitis aktif yang jelas, namun menemukan infiltrasi sel CD4+ dan CD68+ di intima, serta sel CD8+ di adventitia, menandakan adanya aktivitas imun lokal meski ringan. Temuan yang secara statistik paling menonjol: dari 18 kasus dengan data lengkap, seluruh kasus spike-positif (9 dari 9) adalah perempuan, tanpa satu pun kasus pada laki-laki (uji Fisher's exact, p = 0,015). Pada tiga kasus yang dianalisis lebih dalam dengan ISH, hasilnya justru menambah kompleksitas: terdeteksi mRNA dari vaksin dan mRNA dari virus SARS-CoV-2 secara bersamaan pada ketiga kasus tersebut.

Mengapa Hasil Ini Tidak Bisa Ditafsirkan Sebagai "Vaksin Menyebabkan Stroke"

Penulis studi sendiri menggarisbawahi beberapa keterbatasan penting:

Sampel jaringan diambil dari area sekitar hematoma, bukan dari titik pendarahan itu sendiri, dan tidak ditemukan tanda vaskulitis aktif yang jelas. Hasil ISH yang mendeteksi mRNA virus dan vaksin secara bersamaan berarti protein spike yang ditemukan tidak bisa dipastikan murni berasal dari vaksin, ada kemungkinan infeksi asimtomatik yang tidak pernah terdiagnosis, karena status infeksi pada studi ini hanya dikonfirmasi lewat riwayat tes PCR/antigen resmi.

Jumlah sampel sangat kecil, hanya 19 kasus dari satu rumah sakit, sehingga tidak bisa menggambarkan insidensi atau epidemiologi di populasi umum.

Kesimpulan Penulis

Penulis menyimpulkan bahwa temuan ini mengangkat kekhawatiran yang signifikan terkait biodistribusi vaksin mRNA berbasis lipid nanopartikel dan keamanan jangka panjangnya, sekaligus mendesak perlunya studi replikasi skala global untuk memvalidasi temuan ini. Penulis juga secara eksplisit menyatakan bahwa vaksin mRNA tetap menjadi alat penting dalam melawan COVID-19, dan evaluasi berkelanjutan terhadap efek jangka panjangnya adalah bagian penting untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya ke depan.

Penutup

Studi ini adalah contoh baik dari sains yang bekerja sebagaimana mestinya, menemukan sesuatu yang tak terduga, melaporkannya secara transparan lengkap dengan keterbatasannya, dan mengajak komunitas ilmiah global untuk menguji ulang temuan tersebut. Bagi pembaca awam, penting untuk tidak menarik kesimpulan final dari satu studi kasus kecil, dan tetap mendiskusikan keputusan terkait vaksinasi dengan tenaga medis profesional.

Video



References/Sitasi:
Ota, N., Itani, M., Aoki, T., Sakurai, A., Fujisawa, T., Okada, Y., Noda, K., Arakawa, Y., Tokuda, S., & Tanikawa, R. (2025). Expression of SARS-CoV-2 spike protein in cerebral arteries: Implications for hemorrhagic stroke post-mRNA vaccination. Journal of Clinical Neuroscience, 136, 111223. https://doi.org/10.1016/j.jocn.2025.111223

Reaksi:

Post a Comment

0 Comments